Hidayatullah.com--Kerusakan
otak akibat pornografi sama dengan kerusakan otak yang diakibatkan
kecelakaan berkendara. Demikian disampaikan psikolog Elly Risman,
meruju
k penelitian Dr Donald Hilton Jr, dokter ahli bedah syaraf dari
Amerika Serikat (AS).
Menurut Elly yang juga Ketua Yayasan Kita
dan Buah Hati ini, kerusakan otak akibat pornografi sulit untuk
dideteksi dengan cara-cara konvensional. Oleh karena itu dibutuhkan alat
– alat yang canggih untuk dapat menegakkan kembali kerusakan struktural
otak di lima tempat vital.
“Bila tidak ditangani maka dapat mengakibatkan perilaku yang
menimbulkan perbuatan berulang-ulang terhadap pemuasan seksual,” katanya
di depan peserta Rakornas KPI 2013 di Hotel Ayodya Nusa Dua Bali,
Senin, (02/04/2013) dikutip laman KPI.
Menurut Elly, kerusakan otak yang disebabkan pornografi merusak lima bagian otak (bagian lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum) yang berperan di dalam kontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulang – ulang terhadap pemuasan seksual.
Di sinilah fungsi keluarga sebagai penyadar dan melarang anak-anaknya
menonton pornografi yang makin marak di media internet, game online,
komik serta handphone berkamera. Larangan tersebut tentu akan
mempersempit untuk melihat atau membuat video yang asusila.....klik tajuk
Karena
dapat merusak lima bagian otak terutama Lobus Frontal yang tepat berada
di belakang dahi. Kerusakan fungsi otak tersebut mengakibatkan
penurunan kemampuan belajar dan pengambilan keputusan yang menjadi
keunggulan manusia sebagai agen perubahan transformasi sosial.
Sementara
itu, Firly Anissa, Direktur Rumah Media Yogyakarta menilai pentingnya
literasi media bagi ibu rumah tangga dan remaja. Khusus remaja, menurut
hasil penelitian, mereka lebih lama atau lebih banyak mengakses media.
Waktu yang dihabiskan mereka mengakses media sama dengan waktu mereka
belajar di sekolah dan lebih lama dari waktu mereka menghabiskannya
dengan keluarga secara intensif.
“Waktunya hamper enam jam di hari biasa dan lebih lama pada saat libur,” katanya.
Jenis media yang paling banyak diakses mereka adalah telepon gengam (HP) untuk SMS dan Facebook.
Adapun remaja di perkotaan, mereka lebih banyak mengunakan internet dan majalah khusus remaja.
Dalam kesempatan itu, Wahyu Mulyono, yang menjadi salah satu
narasumber dalam sesi stand up presentation, melihat kayanya potensi
kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kondisi ini menjadi sumber daya
yang bisa dimanfaat kita menciptakan karya atau acara yang bernilai,
baik dan berkualitas.
“Bila kita ingin menjual konten kita ke
luar negeri, kualitas adalah segalanya. Dan hal itu bisa dilakukan
dengan usaha pendalaman, analisis, dan yang lainnya,” katanya di akhir
sesi tersebut.*
Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar